29 Des 2010

apa ada yang salah dalam keluarga kita?

Apa ada yang salah dalam keluarga kita ?
Dimana kebahagiaan keluarga kita terselip?
Gun Gun Abdul Ghofur, M.M.

Bismillahirrahmanirrahim,

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata :
"Telah bersabda Rasulullah shallal lahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi". (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

Setiap orang yang merenda cinta dengan ikatan pernikahan tentunya sangat menginginkan kebahagiaan yang abadi, dengan terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Kebahagiaan tersebut meliputi kebahagiaan dalam hal ketenangan dalam sandang, pangan dan papan. Akan tetapi dalam perjalanan mengarungi bahtera hidup rumah tangga tidak selamanya kenyataan sesuai dengan yang dicita-citakan bahkan sebaliknya yang kita dambakan dan kita idam-idamkan malah justru berbuah kepahitan dan kesengsaraan yang mengekang laju perjalanan rumah tangga.

Tidak sedikit orang yang mendambakan kebahagiaan dalam rumah tangganya, ternyata malah mendapatkan kepahitan dan penderitaan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya tujuan yang jelas dalam pernikahan dan jauhnya pribadi orang tersebut dari ilmu serta lingkungan masyarakat social yang baik. Hal ini jelas dibuktikan dengan maraknya kasus perceraian dimana-mana. Sangat memilukan memang, ketika pesta pernikahan yang dilangsungkan dengan begitu mewahnya, menghabiskan dana ratusan juta rupiah, melibatkan orang yang sangat banyak demi menjadi saksi atas pernikahannya, tetapi belum genap satu bulan rumah tangga tersebut hancur, runtuh dihantam gejolak syahwat yang berlebihan.

Kebahagiaan ada dimana-mana, pada mereka yang miskin, yang kaya, berpangkat tinggi ataupun pekerja rendahan. Setiap orang berhak untuk menikmati kebahagiaan. Namun kenyataannya, mengapa kita menemukan demikian banyak orang yang mengeluhkan hidupnya tidak bahagia. Keluhan yang tidak hanya dating dari mereka yang hidupnya miskin, namun juga dari mereka yang hidup serba berkecukupan dan berlebih. Sebab kunci kebahagiaan tidak bergantung kepada jumlah dan nila materi atau pangkat dan jabatan yang kita miliki. Kebahagiaan lebih ditentukan dengan keterampilan dalam mengelola hati, sehingga kegagalan dalam mengelola hati inilah yang menyebabkan orang merasa tidak bahagia.

Diantara wujud kegagalan dalam mengelola hati tersebut diantaranya :
1. Munculnya perasaan tidak puas terhadap apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Misalnya Istri tidak puasa terhadap penghasilan yang didapatkan oleh suami, begitu pula suami tidak puas terhadap peran istri di rumah. Orang kaya tidak puasa dengan kekeyaannya yang ada saat ini, sehingga dia terus menerus memupuk kekayaan sebanyak mungkin dan akhirnya sampai menghalalkan segala cara demi terwujudnya keinginannya.
2. Sebagai akibat dari adanya ketidakpuasan terhadap apa yang Allah berikan, maka dia akan hilang rasa syukur kepada Allah. Ketika manusia selalu merasa tidak pernah puas, maka segala yang telah ia miliki dan peroleh dipandang rendah dan kurang bernilai.
Kunci kebahagiaan sebenarnya terletak pada sikap qonaah, yaitu selalu menerima dan bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah kepadanya, senantiasa merasa bangga, bernilai dan berharga atas pemberian Allah dan menjadikan segalanya bernilai di dalam hidupnya, tidak pernah menyepelekan pemberian dari Allah walau hanya seteguk air minum. Karena dengan konsep syukur inilah justru segala nikmat dari Allah akan ditambah lagi, dan kebalikannya ketika kita mengingkari akan nikmat Allah, maka akan semakin gelisah, resahlah kita dan yang paling berbahaya dihinggapinya penyakit hati dalam diri kita dan nanti di akhirat dia termasuk orang-orang yang celaka dengan azab Allah yang sangat pedih. Na’udzubillah
Firma Allah Ta’ala QS.Ibrahim : 7 :
"dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Tidak ada komentar: